Sebuah Lagu

6 Komentar

- SEBUAH LAGU -

Aku hanya ingin kita
Tinggal di desa dan tua bersama
Sekecil apapun rumah kita
Aku jadikan seluas cinta

Sesekali engkau dan aku
Berkelana dan bertamasya hati
Setua apapun kita nanti
Tetaplah pada Salam Lestari

Reff :

Akan aku habiskan sisa usia ini
Hanya untuk menemani
Menemani dirimu hingga ujung hidupku
Hanya untuk menemanimu…

Jangan Kau Kira Aku Tak Mengenal Rasa Takut

5 Komentar

Setiap kali engkau terintai bahaya, aku senantiasa ada disampingmu sembari menyodorkan segenggam rasa aman. Aku kira, setiap laki-laki akan melakukan hal yang sama kepada perempuannya. Andaipun dia tak sepemberani itu, pastilah tiba-tiba dia akan menjadi berani. Itu naluriah, sulit untuk dijelaskan. Jadi, tak usahlah matamu terlalu berbinar manakala aku ada di posisi melindungimu.

Laki-laki, sependiam apapun dirinya, pastilah dia memiliki masa lalu. Begitupun dengan aku. Bisa dibilang, aku adalah laki-laki pada umumnya. Jika dulunya mereka pernah menikmati malam dengan nongkrong di tepi jalan, aku juga. Jika kebanyakan lelaki melewati masa remajanya dengan pernah berkelahi setidaknya sekali, demikian pula denganku.

Menurutku, tidak ada yang hebat dengan itu semua itu. Hebat adalah ketika kita bisa membawa pulang banyak piala kejuaraan untuk kemudian dipasang berjajar di meja ruang tamu. Nah, seperti itulah definisi hebat. Dulu aku tidak pernah membawa pulang sebuah piala. Jadi, aku tidak hebat.

Suatu hari engkau menemukan album lawas milikku. Disana ada selembar potret diriku, saat masih gondrong dulu. Matamu berbinar, pancaran wajahmu memuja.

Semakin engkau mengenal para sahabat lamaku, semakin kalian terlibat cerita, binar matamu semakin menjadi jadi. Hei.. berhentilah untuk selalu menatapku seperti itu. Apakah semua perempuan seperti kamu? Apakah semua dari kalian menyimpan potensi untuk mengagumi keliaran dari kaumku? Apakah kalian tidak tahu, bahwa bukan hanya perempuan yang bisa membumbui jalannya cerita? Para lelaki juga bisa, bahkan terkadang bumbunya lebih ekstrem, lebih mengada ada. Jadi sayang, kumohon jangan percaya mereka. Aku tidak seliar itu.

Ya benar, aku memang pernah begini dan begitu. Inilah yang tersisa, beberapa luka di tubuh. Tapi.. dengarkan aku dulu. Jangan kau kira aku tak mengenal rasa takut. Banyak yang aku takutkan dalam hidup ini. Kau tahu, keberanian hanyalah sebuah konsep yang muncul dari rasa takut.

Aku takut kehilanganmu, sebab itulah aku menjadi berani.

Kepada Vania

20 Komentar

Vania..

Aku baru saja nonton film Jepang berjudul Yui. Film yang sederhana dengan skenario yang juga sederhana. Bagi para pembenci film drama, mungkin ini adalah tayangan yang menyebalkan. Satu satunya yang membuat film ini terlihat keren adalah pesan yang ingin disampaikan.

Berkisah tentang seorang perempuan remaja bernama Kaoru Amane yang sejak lahir mengidap penyakit Xeroderma Pigmentosum (sensitif terhadap sinar matahari) atau lebih dikenal dengan penyakit XP. Kaoru menghabiskan seluruh siang hari dalam hidupnya dengan mendekam di dalam rumah yang setiap jendelanya tertutup oleh gorden tebal. Hmm.. entahlah bagaimana jika si Kaoru itu adalah diri kita sendiri. Apakah kita juga hebat dalam bersahabat dengan malam. Apakah kita bisa memaknai kata ‘tabah’ setulus hati. Entahlah..

Vania sayang..

Aku memiliki masa kecil yang sama seperti bocah-bocah yang lain. Melihat para bocah yang gembira mandi di kali (di film Laskar Pelangi), aku tersenyum. Aku pernah seperti mereka. Kadang diawali dengan bermain bola, kadang dibarengi dengan berhujan hujan ria. Masa kecil yang wajar di jamanku. Kebahagiaan datang begitu saja. Tidak dibuat buat dan tidak sengaja didatangkan.

Jangan dikira aku tidak menyimpan keanehan. Sama saja. Aneh adalah nama lain dari bocah. Lagi

Kita Mengalami Dua Hari Yang Indah

10 Komentar

Kita mengalami dua hari yang indah..

Malam minggu kemarin, kulihat kau tak lagi pucat. Lalu aku mengajakmu jalan-jalan. Tidak jauh, hanya mengunjungi sekretariat SWAPENKA. Hanya berjarak antara tiga sampai empat kilometer saja dari rumah. Sesampainya di sana, aku membuatkanmu api unggun di pelataran.

Malam semakin larut tapi tidak semakin sepi. Ada beberapa adek-adek SWAPENKA yang menemanimu, membeberkan matras, memberimu selimut tebal, menyiapkan kasur barangkali kau lelah dan ingin tiduran, serta tak lupa beberapa camilan.

Api unggun yang kubuat untukmu, semoga baranya selalu menyala di hati.

Hari berikutnya..

Minggu siang menjelang sore, aku dan kamu meluncur ke arah Balung. Di sana ada acara tasyakuran OPA WACHANA. Sayang sekali, di tengah jalan hujan menahan kau dan aku untuk melanjutkan perjalanan. Kita terdampar di tepi jalan raya, di sebuah toko yang tutup. Kita tidak sendirian, ada beberapa pengemudi motor lain yang merapat dan berteduh.

Sesekali aku memandang rintik hujan, sesekali aku memandangmu. Biasanya, di situasi yang berbeda, aku dan kamu lebih senang memilih cara gila untuk menghadapi hujan. Menikmatinya. Berbasah basah ria sambil bersenandung kecil. Tidak kali ini.

Satu jam lebih kita terjebak hujan. Saat derasnya berganti gerimis, saat kulihat kau mulai kedinginan, aku masih tidak berani memutuskan untuk menerobos gerimis. Memang semakin dingin. Tapi itu yang terbaik. Dan lagi ini memang kesalahan kita, selalu tidak senang mempersiapkan (apalagi mengenakan) jas hujan.

Akhirnya hujan pun berhenti. Kita pulang, tidak melanjutkan perjalanan. Sesampainya di rumah, aku melakukan beberapa hal. Satu diantaranya adalah membuatkanmu minuman hangat.

Belum lagi kau seruput minuman hangatnya, kulihat wajahmu kembali pucat. Tiba tiba kau melakukan gerakan reflek. Aw.. ternyata makanan yang beberapa jam yang lalu kau telan, kini kembali seperti tsunami kecil.

Kita mengalami dua hari yang indah. Saat wajahmu tak lagi terlihat pasi, aku akan membuatnya lebih indah.

Seorang Kawan Bernama Keong

12 Komentar

Hai Bunga, kuceritakan padamu tentang seorang sahabat bernama Dedy Nurcahyono. Hmm, bukankah kau mengenalnya dengan baik? Ya benar, dia adalah Mas Dedi, anggota pencinta alam SWAPENKA sama seperti kau dan aku. Tapi aku yakin, ada beberapa hal yang kau masihlah tak mengerti, dan bagian itu yang ingin kututurkan padamu.

Aku mengenalnya pertama kali ketika aku dan Dedi sama sama mengikuti Pendidikan dan Latihan Dasar Pencinta Alam SWAPENKA. Suatu hari di bulan November yang basah, di awal milenium. Dedi masih semester satu, sedangkan aku kala itu sudah duduk di semester lima Fakultas Sastra. Namun begitu, aku tidak pernah merasa terlambat untuk memasuki dunia yang baru, apalagi kalau bukan dunia organisasi.

Sebagai peserta DIKLATSAR yang ke XIX, kami hanya bisa duduk terhuyung huyung di atas truk yang sedang meliuk menuju Bandealit, sebuah kawasan hutan yang masih masuk zona Taman Nasional Merubetiri. Peserta DIKLATSAR XIX SWAPENKA bukan hanya aku dan Dedi. Masih tersisa enam lagi lainnya. Anton, Puspito, Saroji, Endang, Tri, dan Krucil. Tiga nama yang kusebutkan terakhir adalah saudara seangkatan yang ada di garis kaum Hawa, aku begitu menaruh hormat pada mereka.

Lenggak lenggok kami di atas truk (yang aku sendiri lupa apa warna truk tersebut, karena foto foto DIKLATSAR angkatan XIX lenyap entah kemana. Kami seperti generasi yang hilang) usailah sudah. Semua bernapas lega, begitu juga Dedi. Tapi tidak dengan diri ini. Karena setidaknya aku mengerti apa dan bagaimana rangkaian acara pendidikan yang seperti ini. Ya, semisal sebuah rahasia, DIKLATSAR Pencinta Alam adalah rahasia yang bersifat umum. Hampir semua orang bisa menerkanya. Adalah aneh ketika melihat wajah wajah sumringah dari peserta DIKLAT, kawan kawanku sendiri (yang nantinya kata ‘kawan’ akan tergeser sedemikian rupa hingga menjelma menjadi sebuah kata baru, ‘saudara’). Lagi

Imajinasi Yang Mengering

11 Komentar

Dulu temanku bukan hanya layang layang, sungai, sawah, jangkrik, holahop, dan segala piranti yang mengelilingi masa kebocahanku. Ada satu lagi, sahabat imajiner. Kadang kubayangkan berteman baik dengan Tarzan, Hiyawata, Asterix Obelix, Gatotkaca, dan sederet nama tokoh hero lainnya.

Sesekali aku berimajinasi tentang diriku sendiri. Entah menjadi robot, entah menjadi manusia biasa yang hebat. Dari banyak sifat sifat yang hebat itu, aku memimpikan dua hal, terbang dan menghilang. Sepertinya ini menjadi impian hampir semua bocah di dunia.

Saat beranjak remaja, aku memiliki imajinasi yang juga berbeda. Ya, aku pernah punya impian hidup sebagai seorang transmigran. Sepertinya menyenangkan, punya lahan sendiri dan melewati waktu dengan mencumbui lahan itu hingga melahirkan banyak cinta.

Sebenarnya bukan hanya itu. Aku kaya imajinasi. Ingin begini dan begitu. Ketika besar, aku mulai memetik satu persatu kuncup imajinasi yang terpelihara manis. Kadang aku berpikir, apakah aku hidup di atas percikan imajinasiku sendiri? Tapi itulah yang terjadi.

Hari ini aku disadarkan oleh sesuatu. Dibanding ketika aku bocah dulu, sekarang aku miskin imajinasi. Dan untuk menyegarkan kembali imajinasi ini, aku butuh sesekali kembali ke masa kecil. Ya, begitu seharusnya.

Bacalah tulisan yang kering ini, maka kau akan mengerti bahwa aku memang sedang butuh mengasah kembali ruang imajinasi..

Pencinta Alam

1 Komentar

Hampir semua orang yang ada di sekitarku menghujat sistem komando dan selalu mengagung agungkan sistem demokrasi. Mereka bilang, sistem komando hanya cocok berada di ruang monarki. Hmmm, padahal setahuku, monarki adalah sistem tersendiri. Harusnya mereka menyebut lingkup militer manakala harus memperbincangkan sistem komando.

Tadinya aku juga menjadi bagian dari mereka. Selalu mengedepankan musyawarah bersama dan tidak menghiraukan komando yang lebih bersifat memerintah – diperintah. Tapi segalanya menjadi berbeda ketika aku terjun di dunia pencinta alam.

Suatu hari di DIKLATSAR PA SWAPENKA

Aku pernah ada di situasi dimana namaku ditiadakan, berganti dengan angka angka. Saat itu identitasku adalah 08. Setiap kali ada yang meneriakkan 08, itu pertanda aku harus segera merapat. Kemudian (untuk waktu tujuh hari) aku akrab dengan kalimat ini.

“08 siap menerima instruksi selanjutnya dari instruktur”

Itu adalah hari hari yang berat, sedikit menyebalkan tapi sulit untuk kulupakan. Berat karena aku ada di tengah hutan jauh dari peradaban, tidak memiliki beberapa hak selain hak hak dasar (seperti hak untuk menghirup udara), dan memiliki kewajiban untuk bergelut dengan diri sendiri. Sedikit menyebalkan karena aku tidak sedang menghirup udara di tengah suasana demokrasi, tapi ada di dalam sistem komando. Lagi

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.