Setiap kali engkau terintai bahaya, aku senantiasa ada disampingmu sembari menyodorkan segenggam rasa aman. Aku kira, setiap laki-laki akan melakukan hal yang sama kepada perempuannya. Andaipun dia tak sepemberani itu, pastilah tiba-tiba dia akan menjadi berani. Itu naluriah, sulit untuk dijelaskan. Jadi, tak usahlah matamu terlalu berbinar manakala aku ada di posisi melindungimu.

Laki-laki, sependiam apapun dirinya, pastilah dia memiliki masa lalu. Begitupun dengan aku. Bisa dibilang, aku adalah laki-laki pada umumnya. Jika dulunya mereka pernah menikmati malam dengan nongkrong di tepi jalan, aku juga. Jika kebanyakan lelaki melewati masa remajanya dengan pernah berkelahi setidaknya sekali, demikian pula denganku.

Menurutku, tidak ada yang hebat dengan itu semua itu. Hebat adalah ketika kita bisa membawa pulang banyak piala kejuaraan untuk kemudian dipasang berjajar di meja ruang tamu. Nah, seperti itulah definisi hebat. Dulu aku tidak pernah membawa pulang sebuah piala. Jadi, aku tidak hebat.

Suatu hari engkau menemukan album lawas milikku. Disana ada selembar potret diriku, saat masih gondrong dulu. Matamu berbinar, pancaran wajahmu memuja.

Semakin engkau mengenal para sahabat lamaku, semakin kalian terlibat cerita, binar matamu semakin menjadi jadi. Hei.. berhentilah untuk selalu menatapku seperti itu. Apakah semua perempuan seperti kamu? Apakah semua dari kalian menyimpan potensi untuk mengagumi keliaran dari kaumku? Apakah kalian tidak tahu, bahwa bukan hanya perempuan yang bisa membumbui jalannya cerita? Para lelaki juga bisa, bahkan terkadang bumbunya lebih ekstrem, lebih mengada ada. Jadi sayang, kumohon jangan percaya mereka. Aku tidak seliar itu.

Ya benar, aku memang pernah begini dan begitu. Inilah yang tersisa, beberapa luka di tubuh. Tapi.. dengarkan aku dulu. Jangan kau kira aku tak mengenal rasa takut. Banyak yang aku takutkan dalam hidup ini. Kau tahu, keberanian hanyalah sebuah konsep yang muncul dari rasa takut.

Aku takut kehilanganmu, sebab itulah aku menjadi berani.

Iklan