Vania..

Aku baru saja nonton film Jepang berjudul Yui. Film yang sederhana dengan skenario yang juga sederhana. Bagi para pembenci film drama, mungkin ini adalah tayangan yang menyebalkan. Satu satunya yang membuat film ini terlihat keren adalah pesan yang ingin disampaikan.

Berkisah tentang seorang perempuan remaja bernama Kaoru Amane yang sejak lahir mengidap penyakit Xeroderma Pigmentosum (sensitif terhadap sinar matahari) atau lebih dikenal dengan penyakit XP. Kaoru menghabiskan seluruh siang hari dalam hidupnya dengan mendekam di dalam rumah yang setiap jendelanya tertutup oleh gorden tebal. Hmm.. entahlah bagaimana jika si Kaoru itu adalah diri kita sendiri. Apakah kita juga hebat dalam bersahabat dengan malam. Apakah kita bisa memaknai kata ‘tabah’ setulus hati. Entahlah..

Vania sayang..

Aku memiliki masa kecil yang sama seperti bocah-bocah yang lain. Melihat para bocah yang gembira mandi di kali (di film Laskar Pelangi), aku tersenyum. Aku pernah seperti mereka. Kadang diawali dengan bermain bola, kadang dibarengi dengan berhujan hujan ria. Masa kecil yang wajar di jamanku. Kebahagiaan datang begitu saja. Tidak dibuat buat dan tidak sengaja didatangkan.

Jangan dikira aku tidak menyimpan keanehan. Sama saja. Aneh adalah nama lain dari bocah.

Aku berkenalan dengan kata ‘aneh’ ketika usiaku belum lagi satu tahun. Mungkin masih empat bulan, lima bulan, atau enam bulan, aku tidak tahu tepatnya. Saat itu orang tuaku sedang merenovasi rumah. Ada banyak pekerja bangunan yang mondar mandir (katanya sih). Bapak tidak ada di rumah, dia sedang ada di kantor. Dan Ibu, dia multi talenta, sama seperti perempuan-perempuan lain di jagat ini. Dalam satu waktu, dia bisa mengerjakan lebih dari satu aktifitas. Untuk mengerjakan aktifitas yang membutuhkan perhatian lebih, dia menaruhku di sebuah ranjang kecil. Tepat di bawah ranjang tersebut ada adukan kapur yang sudah dicampur dengan air. Orang-orang ditempatku menyebutnya gamping.

Cerita selanjutnya, kehebohan pun terjadi. Aku yang tadinya baik-baik saja, entah bagaimana ceritanya aku bergeser hingga mendekati tepi bibir ranjang. Lalu.. “plung..”, akupun tercebur di dalam kubangan kapur gamping.

Apakah akhirnya semua baik baik saja? Ya, aku baik-baik saja. Seorang tukang / pekerja bangunan sempat melihat adegan saat aku terjatuh. Secepatnya dia berteriak memanggil nama Ibuku. Kejadian selanjutnya, Ibu berlari ke arahku, meraihku, dan membersihkan setiap lubang yang ada di tubuhku. Mula-mula beliau mengeluarkan kapur yang memenuhi mulut dan hidungku, lalu telinga, lalu lain-lainnya. beliau melakukannya dengan kedua mata yang meleleh.

Vania, aku baik-baik saja..

Aku berhasil keluar dari zona aneh, bertumbuh dan semakin dewasa hingga sekarang ini. Meskipun kabarnya peristiwa itu berefek pada perkembangan tulang dalam anatomi tubuhku, tapi aku baik-baik saja. Angin masih berhembus, dan aku masih bisa mendekapnya.

Kisah yang lain di masa kecilku..

Aku tidak memiliki masalah dengan pergaulan. Setidaknya itu menurutku sendiri. Sayangnya orang dewasa tidak menganggapnya begitu. Mereka bilang aku lamban dalam hal sosialisasi. Mungkin mereka benar, mereka kan sudah dewasa dan pandai. Aku pikir, satu-satunya yang (mungkin) menjadi masalah adalah imajinasiku yang terlalu tinggi. Tapi bukankah itu wajar? Dunia bocah adalah dunia imajinasi.

Aku senang menikmati kesendirian, senang berbicara dengan batu, senang tertawa sendiri, senang menganggap ranjang sebagai perahu dan lantai sebagai lautan. Dan aku rasa, semua bocah memikirkan hal yang sama. Jika orang dewasa butuh sesekali menikmati kesendirian, para bocah juga begitu. Hanya saja, ada beberapa dari mereka butuh porsi yang lebih besar. Aku salah satunya.

Sampai hari ini aku masih memelihara keyakinan bahwa setiap bocah pasti pernah membayangkan sedang terbang, melayang di ketinggian selincah Gatot Kaca. Ya ya ya, dulu aku seperti itu. Hanya ruang imajinasilah yang bisa mewujudkan keinginanku. Dalam kesendirian, aku bisa terbang, aku bisa menghilang tanpa terlihat oleh orang-orang di sekitarku, aku memiliki teman imajiner yang banyak (dan semuanya aku sendiri yang memberi nama mereka), aku bisa keliling dunia tanpa harus kemana mana, dan aku bisa tertawa bahagia tanpa takut dianggap gila.

Percayalah, menjadi bocah itu indah

Jika disederhanakan, hidup akan menyodorkan dua pilihan. Menjadi seperti yang orang lain inginkan atau menjadi diri sendiri. Dan para bocah tahu harus bagaimana.

Vania..

Aku tumbuh bersama tatap mata yang menyelidik. Mereka melakukan itu karena aku adalah pribadi dengan setumpuk keanehan. Saat kecil, aku menuliskan huruf i dengan tanda titik tertera di bawah. Orang-orang dewasa di sekitarku mengernyit heran. Guru Bahasa Indonesia sekolah dasar memberiku peringatan keras. Menurut beliau, aku sedang menulis tanda seru, bukan huruf i. Tapi aku lebih sreg jika tanda titiknya ada di bawah. Bagiku, begitulah seharusnya huruf i.

Masih tentang huruf. Ketika aku harus menulis huruf S, aku memulainya dari titik terbawah. Menurut mereka itu tidak tepat, harusnya dimulai dari titik teratas lalu membuat lengkungan hingga ke bawah. Kali ini aku yang mengernyit heran, ada apa dengan mereka? Ada apa dengan orang-orang dewasa? Kau tahu Vania, aku melakukannya hingga saat ini, menulis huruf S dari titik bawah, dan hidupku baik-baik saja.

Kembali bicara tentang masalah huruf. Ada banyak model penulisan yang menurut mereka, aku menuliskannya dengan aneh. Mulai dari E, T, dan beberapa lagi. Hmmm.. orang dewasa memang aneh, seaneh tujuan hidupnya yang melulu tentang mengisi perut. Secara imajinasi mereka kering.

Saat kecil, menggambar adalah pelajaran favoritku. Dan aku memiliki pengalaman unik tentang ini. Kalau tidak salah, saat SD kelas satu. Saat itu, semua teman-temanku menggambar dua gunung yang di tengah tengahnya ada matahari terbit, lalu di bawah gunung ada sawah membentang yang di belah oleh jalan. Atau kalau tidak, ada lautan terhampar dan perahu tergambar kecil saja sebagai penghias. Aku juga melewati masa itu. Setelah melihat kiri kanan, aku menggambar tema yang sama. Dua gunung tapi tanpa matahari di celahnya. Lalu aku menggambar perahu di atas dua gunung tersebut. Aku membayangkan perahu terbang, tapi lagi-lagi orang dewasa membunuh imajinasiku.

Pengalaman masa kecil yang lain. Saat SD, hampir semua guru senang menghukum muridnya untuk bernyanyi di depan kelas. Dan tahukah kau Vania, itu adalah saat dimana aku harus memeras otak untuk bisa membuat onar dan akhirnya mendapat anugerah sebuah hukuman. Bernyanyi di depan kelas, wow.. itu keren sekali

Dan kini saat aku telah ada di usia dewasa, tiba-tiba aku sudah akrab dengan tiga hal. Huruf, lukisan dan bernyanyi. Ini adalah kegiatan yang tidak jauh beda dengan ketika aku masih kecil. Itulah kenapa aku menyukainya.

Vania, kita memiliki hari yang indah. Dan syukurlah kita bukan Kaoru Amane yang mengidap Xeroderma Pigmentosum. Dia bersahabat dengan kesendirian karena keadaan. Kita, kau dan aku, sesekali bersahabat dengan kesendirian, karena kita suka. Nikmati harimu Vania, sebab semua baik-baik saja.

Udah dulu ya sayang, kapan-kapan kita sambung lagi. Dadaaaah… twing…!

Tulisan ini untuk menyemarakkan Our Pensieve’s 1st Giveaway

Iklan