Api Unggun Ini Untukmu

6 Komentar

Ketika itu malam hari, hujan turun lebat sekali. Suasana di JL. Jawa –Kampus Bumi Tegalboto Jember– lengang, nyaris tak ada suara kendaraan yang lewat. Memang ketika telah mendekati Idul Fitri, tak banyak PKL yang nekad berjualan kecuali Leman, Gito penjual nasi goreng, Solikin, dan Cak Jo. Tapi di malam itu, mereka pun entah kemana. Suasana menjadi semakin sempurna saat lampu padam.

Aku sendirian di sudut UKMF Sastra. Tak ada orang lain di sini kecuali Tik Songot dan Jono, mereka berdua memang bertugas jaga malam di Fakultas Sastra.

Sepi. Saat yang baik untuk menertawakan kebodohan diri sendiri. Lalu aku menantang sunyi dengan memungut sebuah ranting basah. Lalu sebuah lagi. Begitu seterusnya hingga menjadi segenggam, dua genggam, kemudian banyak, kemudian aku lelah, lapar, dan tertidur.

Siang hari. Memulai aktifitas dengan menanak nasi pakai energi listrik yang dibayar dengan subsidi negara. Kemudian memetik gitar yang juga tertera nomor di belakangnya, pertanda bahwa ia dibeli dari uang subsidi. Lalu bosan. Baru kemudian teringat ranting-ranting kecil itu. Aku menatanya sedemikian rupa. Berbekal korek api dan sesobek kertas kering, aku memanggil sang api untuk menjilati ranting.

Hana, itulah secuil kenangan tentang api unggun yang pernah aku ceritakan padamu. Dalam sunyi dan kesendirian, aku merawatnya. Mula-mula hanya terdiri dari kumpulan ranting, lalu beranjak ke bonggolan kayu, lalu ia mengikat hatiku. Saat hujan turun, aku sibuk menutupinya dengan rumput dan dedaunan segar. Kadang aku turut menari di bawah hujan, hanya karena ingin memastikan ada bara api tersisa yang nanti bisa aku perjuangkan.

Setiap kali mengenangnya, lamunanku mengarah pada wajah lampau. Di masa itu, Indomart di sudut JL. Jawa VI belum ada, yang ada adalah pintu kecil yang menghubungkan Fakultas Sastra UNEJ dengan dunia luar. Kelak di akhir tahun 2007, pintu ini ditutup atas nama ketertiban dan keindahan kampus. Nasib serupa juga dialami oleh Panggung Terbuka Sastra, dua tahun kemudian.

Hana, api unggun itu bertahan selama sembilan malam. Selanjutnya ia dilupakan. Pelajaran yang baik, agar manusia tak melulu menyediakan mental untuk menjadi legenda.

Api unggun itu, ia penanda kerinduan yang pertama.

apiunggun

Di hari lahirmu kali ini, kubuatkan kembali api unggun. Mula-mula dari beberapa ranting, dimulai tujuh hari yang lalu. Semoga kau suka.

Hana, selamat hari lahir.

Selamat Hari Lahir Prit

7 Komentar

Hai Prit. Hari lahirmu ditandai dengan kemenangan kesebelasan Kosta Rika atas Italia, 1 – 0. Kau bilang, “Ndengaren sampeyan nonton tivi, Mas?” Iya, menemani si Faisal Korep. Kasihan dia sejak tadi tampak gelisah memikirkan bola. Lagi pula, aku juga sedang ingin menonton.

Lalu monitor PC pun diotak-atik, disambungkan dengan TV Kabel. Sementara itu remote control hilang entah kemana. Jadinya kita nonton pertandingan bola dalam kebisuan.

Ini laga Piala Dunia pertama yang aku tonton, meskipun dimulai dari menit ke-55.

Tiba-tiba aku teringat poster di bawah ini, kita pernah mendiskusikannya tiga hari yang lalu.

We-do-not-need-the-World-cup

Dokumentasi dari sini

Apa yang terjadi di Brasil patut menjadi renungan kita bersama, setidaknya sebagai pembanding pada geliat pembangunan di negeri kita sendiri. Namun, tentu saja kita harus memberikan ruang pada publik pencinta bola. Hidup itu warna warni Prit, saling menghargai adalah indah. Yang harus kita lakukan hanyalah senantiasa memilih, warna apa yang akan kita gunakan untuk melukis hari ini dan hari-hari nanti.

Nikmati harimu Prit. Tak perlu resah gelisah dan malu menuliskan hari istimewamu hanya karena diluar sana banyak orang yang sedang merayakan hari lahir salah satu Capres, hehe. Seperti yang sering aku katakan, kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan kapan dan dimana, tetapi tentu kita berdaulat untuk membawa hidup kita, dan terbang kemana hati membawa.

tua-bersama

Selamat Hari Lahir Prit, 21 Juni 2014

Maaf aku nggak punya kado apa-apa. Mau mengajakmu tamasya juga tidak bisa, kan motornya dipinjam anak-anak SWAPENKA. Mereka sedang ada kegiatan di Taman Nasional Alas Purwo sejak kemarin lusa. Tapi semoga saja nanti kita bisa menghadiri pernikahan Anaz Gembeng di Tamanan, Bondowoso.

Ohya, terdengar kabar bahagia jika Kaka Akin juga akan melangsungkan pernikahan hari ini. Selamat Kakaaak…

Bagaimana jika hari ini kita naik kereta api saja? sepertinya keren.

Istriku, nikmati harimu. Merdeka!

Older Entries