Imajinasi Yang Mengering

11 Komentar

Dulu temanku bukan hanya layang layang, sungai, sawah, jangkrik, holahop, dan segala piranti yang mengelilingi masa kebocahanku. Ada satu lagi, sahabat imajiner. Kadang kubayangkan berteman baik dengan Tarzan, Hiyawata, Asterix Obelix, Gatotkaca, dan sederet nama tokoh hero lainnya.

Sesekali aku berimajinasi tentang diriku sendiri. Entah menjadi robot, entah menjadi manusia biasa yang hebat. Dari banyak sifat sifat yang hebat itu, aku memimpikan dua hal, terbang dan menghilang. Sepertinya ini menjadi impian hampir semua bocah di dunia.

Saat beranjak remaja, aku memiliki imajinasi yang juga berbeda. Ya, aku pernah punya impian hidup sebagai seorang transmigran. Sepertinya menyenangkan, punya lahan sendiri dan melewati waktu dengan mencumbui lahan itu hingga melahirkan banyak cinta.

Sebenarnya bukan hanya itu. Aku kaya imajinasi. Ingin begini dan begitu. Ketika besar, aku mulai memetik satu persatu kuncup imajinasi yang terpelihara manis. Kadang aku berpikir, apakah aku hidup di atas percikan imajinasiku sendiri? Tapi itulah yang terjadi.

Hari ini aku disadarkan oleh sesuatu. Dibanding ketika aku bocah dulu, sekarang aku miskin imajinasi. Dan untuk menyegarkan kembali imajinasi ini, aku butuh sesekali kembali ke masa kecil. Ya, begitu seharusnya.

Bacalah tulisan yang kering ini, maka kau akan mengerti bahwa aku memang sedang butuh mengasah kembali ruang imajinasi..

Pencinta Alam

1 Komentar

Hampir semua orang yang ada di sekitarku menghujat sistem komando dan selalu mengagung agungkan sistem demokrasi. Mereka bilang, sistem komando hanya cocok berada di ruang monarki. Hmmm, padahal setahuku, monarki adalah sistem tersendiri. Harusnya mereka menyebut lingkup militer manakala harus memperbincangkan sistem komando.

Tadinya aku juga menjadi bagian dari mereka. Selalu mengedepankan musyawarah bersama dan tidak menghiraukan komando yang lebih bersifat memerintah – diperintah. Tapi segalanya menjadi berbeda ketika aku terjun di dunia pencinta alam.

Suatu hari di DIKLATSAR PA SWAPENKA

Aku pernah ada di situasi dimana namaku ditiadakan, berganti dengan angka angka. Saat itu identitasku adalah 08. Setiap kali ada yang meneriakkan 08, itu pertanda aku harus segera merapat. Kemudian (untuk waktu tujuh hari) aku akrab dengan kalimat ini.

“08 siap menerima instruksi selanjutnya dari instruktur”

Itu adalah hari hari yang berat, sedikit menyebalkan tapi sulit untuk kulupakan. Berat karena aku ada di tengah hutan jauh dari peradaban, tidak memiliki beberapa hak selain hak hak dasar (seperti hak untuk menghirup udara), dan memiliki kewajiban untuk bergelut dengan diri sendiri. Sedikit menyebalkan karena aku tidak sedang menghirup udara di tengah suasana demokrasi, tapi ada di dalam sistem komando. Lagi

Warung Blogger : Jempolku Untukmu

24 Komentar

Hai manis, mari kita acungkan jempol tinggi tinggi untuk segala hal yang indah di warung blogger. Kenapa harus jempol? Kenapa tidak jari manis saja?

Kau pasti tahu, jempol semakin naik daun seiring populernya kata yang rat mebarat itu. Apalagi kalau bukan Like this.

Tadinya jemari ini digunakan sebagai simbol yang menyatakan tentang kesukaan maupun sesuatu yang dianggap cool and smart. Pokoknya, segala yang baik baik digambarkan dengan menunjukkan jempol. Entahlah, mungkin lantaran saat berdoa, jempollah yang paling dekat dengan wajah kita.

Warung blogger, sebuah tempat yang memiliki medan magnet. Di warung blogger ini kita seakan akan diingatkan kembali tentang motto Radio Republik Indonesia. Sekali di Udara Tetap di Udara. Ya ya, di sana kita bisa kopi udara. Bercengkerama akrab, berbagi tautan juga pengalaman. Alangkah indahnya.

Nah manis, bagaimana jika kita acungkan saja jempol ini untuk warung blogger?

Aku Sedang Tidak Ingin Berlomba

3 Komentar

Seperti yang pernah kuceritakan padamu, blog ini lahir bersama secangkir kopi. Ya, saat itu aku benar benar menikmati rasa dan aromanya. Semoga dari yang sedikit itu, bisa menggambarkan padamu betapa aku benar benar menikmati menulis di sini.

Kawan, aku sedang tidak ingin berlomba. Kenapa kau memaksaku untuk berpacu bersamamu? Haruskah kita mengejar sesuatu yang tanpa dikejarpun, sesuatu itu nantinya akan datang menghampiri?

Apa yang kau harapkan dari angka satu? Tepuk tangankah? Atau seribu jempol? Kalau itu maumu, kau sedang mengajak orang yang salah. Kau tahu, aku terbiasa dengan sepi. Bukan berarti aku benci keramaian. Cobalah untuk lebih luas lagi menilai seseorang.

Hidup adalah tentang keindahan, bukan sekedar tentang urutan apalagi applause. Mari kita bicarakan yang indah indah saja. Tentunya sambil menikmati kopi rasa rindu.

Lihat Sayang, Daun Mulai Berguguran

15 Komentar

Lihat di sana, ada seorang nenek tua yang melewati kantin fakultas ekonomi UJ. Dia mengenakan baju korpri padahal bukan pegawai negeri. Bajunya lusuh, selusuh rambutnya yang menggimbal.

Hujan sedang deras derasnya kala sang nenek melintas. Dia seakan tak peduli. Ada lebih dari satu nyawa yang menunggu hasil nenek mengais ngais, berharap dia pulang membawa sebungkus apapun untuk menyambung hidup.

Kau tahu? Empatiku pada nenek itu serasa tak berguna karena aku hanya bisa berdoa.

Aku sedang menikmati secangkir kopi seharga 1500, sedang harap harap cemas menunggumu. Hati kecilku tak henti berdoa, semoga ayam goreng skripimu happy ending dan bisa ujian 13 Januari 2012.

Di luar sana ada orang orang yang menggigil oleh atapnya yang bocor, oleh hempasan angin yang masuk ke kolong jembatan, dan oleh perutnya yang hanya dikasih makan Al Fatihah.

Di belahan bumi yang lain, ada saudara saudara kita yang hari harinya tercekam oleh peluru. Mereka terjebak di antara ganasnya perang.

Ada yang lebih berkaca kaca, ada yang lebih berlinang..

Lihat sayang, di depan sekretariat pencinta alam SWAPENKA aku melihat daun mulai berguguran. Dia tertiup angin basah dan rindu aroma tanah (yang juga basah setelah tersiram butir butir air hujan). Tugas daun daun itu selesailah sudah. Kini mereka sedang menikmati tugas baru, berpelukan dengan bumi.

Sayang, ada banyak hal yang bisa diterjang dengan hati. Percayalah, setiap masalah pasti akan menemukan sebuah titik, dimana nantinya semua akan kembali baik baik saja.

Nikmati saja ayam goreng skripsimu. Aku di sini menunggu, bersama kopi yang tinggal satu centi, bau tanah basah, dan daun yang mengecup wajah dunia.

Nanti setelah semuanya selesai, aku akan mengajakmu kesana. Menikmati ayat ayat Tuhan dari ketinggian.

Catatan

Ayo Priiiit, hajar ayam goreng skripsimu.. Puncak Rengganis menunggu. Semangaaaat.. Jreeeeeng..

Dengar Sayang, Jangan terlalu Dipikirkan

1 Komentar

Sayang, mengapa engkau mbrabak? Apakah engkau masih merisaukan perihal remove facebook? Haha, sudahlah.. Biarkan semua kembali berjalan alami. Ijinkan saja dia untuk menyumpah serapahiku. Aku baik baik saja kok, apalagi ada secangkir kopi buatanmu. Meskipun sudah dingin, tapi satu sruputannya bisa menggelorakan semangatku untuk terus menulis.

Percayalah, aku juga sama seperti kamu. Sama sama tidak tahu apa gerangan alasan dia meremove, memblokir sekaligus memutus jalinan silaturrahmi yang aku tawarkan. Kalau kau terus bertanya kepadaku, lantas aku harus bertanya kepada siapa? Dengar sayang, jangan terlalu dipikirkan..

Rasa benci adalah sebuah sifat yang sengaja dihadirkan Tuhan di dunia ini sebagai pelengkap kehidupan. Harusnya kau tahu, itu adalah fitrah. Jadi sayang, teruskan hidupmu manakala ada yang sedang membencimu, kau sudah berusaha menjalin komunikasi tapi tiada hasil. Percuma saja jika kau terus bertanya tanya sementara detik tetap menderap. Waktu terus berjalan dan usia kita semakin berkurang.

Apakah kau akan terus berkutat dengan rasa penasaranmu? Akan ada banyak hal yang terlewatkan. Bisa bisa kau malah lupa untuk berkarya. Lagipula, kenapa jadi kau yang kepikiran? Bukankah semua hal yang dia perbuat, itu ditujukan padaku?

Benci adalah sebuah kewajaran, seperti aku yang benci manakala menghadapi suasana malam yang dingin tanpa secangkir kopi. Syukurlah, Bapak mengingatkanku dengan caranya. Beliau bilang, kebencian berbanding lurus dengan kesombongan. Mereka yang membenci sesuatu adalah mereka yang sombong tapi tidak sadar kalau dia sedang sombong.

Tapi, apakah kopi bisa membuatku sombong? Oh.. andai kau tahu bagaimana tersiksanya mengecup malam tanpa kopi. Hmmm, ternyata masih ada sedikit kotoran yang tersisa di hatiku. Pantas saja ada yang membenci.

Ups, sepertinya aku salah mengartikan deh. Apa benar dia melakukan itu semua karena didasari oleh rasa benci? Jangan jangan dia hanya iseng. Jangan jangan.. ah tidak tidak, sepertinya aku diperangkap oleh kekotoran hatiku sendiri. Bagaimana bila ternyata aku yang membencinya tapi enggan untuk mengakui? Karena enggan itulah, tanpa tersadari, aku mengirim sinyal sinyal di otakku untuk selalu beranggapan bahwa dia membenciku. Andai saja itu benar, betapa sombongnya aku. Ya Allah, ampunilah hambaMu ini.

Kemudian aku berpikir dan terus berpikir. Sementara dirimu masih menerawang menatap langit langit kamar, entah apa yang kau pikirkan..

Dia teman yang baik, padamu dan terlebih kepadaku. Baik, baik sekali. Dia hanya kesulitan memilih kata kata manakala harus bercengkerama dari hati ke hati. Diksinya kasar, cenderung menyakiti. Mungkin itulah yang membuatnya tidak memilih cara berkomunikasi langsung. Atau, apakah dia benar benar menjaga agar tak lagi ada perkelahian fisik? Ah tidak, itu sudah sangat lama, dan sekarang dia semakin dewasa. Hmm, mungkin ini yang membuatnya memilih cara yang aneh. Menghindar. Dia hanya tidak ingin menyakitiku secara langsung dengan kata katanya.Padahal, andai saja di mau membuka ruang komunikasi, tentunya aku akan bertanya. Dimana letak kesalahanku dan bagaimana aku harus memperbaikinya?

Sangat menyakitkan memang, ditinggalkan seorang teman. Tapi mau bagaimana lagi? Seperti yang kubilang padamu, waktu terus berjalan. Kita harus segera mendongak, menatap ke depan dan kembali berdiri (karena aku menganggap kehilangan teman sama artinya dengan terjatuh dari ketinggian). Perih, sakit dan terasa ada yang nggandol. tapi begitulah, tugas kita di dunia ini belum berakhir.

Engkau jangan salah sangka ya sayang. Aku tidak sedang putus asa untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi. Apalagi putus asa untuk kembali menjalin tali silaturrahmi. Bukan begitu, sama sekali tidak. Aku sudah melakukan semua yang aku mampu. Tidak ada tanggapan. Mungkin dia butuh sedikit lebih lama lagi waktu untuk berpikir. Biar saja, biarkan semua berjalan apa adanya. Lirik lagu cinta bilang, biarkan waktu yang menjawabnya.

Jangan mbrabak lagi ya sayang.

 

Catatan

Catatane nyusul, hahaha..

Ini malam yang sama

Tinggalkan komentar

Sekarang 31 Desember. Hari terakhir di tahun 2011. Hampir semua orang merayakannya. Di detik detik perpindahan kalender, banyak mulut mulut yang sibuk meniup terompet. Ada yang teriak teriak nggak jelas. Yang punya motor, biasanya meraung raungkan suara hingga bising. Ya ya ya, selalu ada banyak ekspresi di malam pergantian kalender.

Bagaimana dengan kau dan aku nanti?

Kita nikmati saja hari ini seperti biasa. Biasanya kita kan memang senang menciptakan kenangan. Ya sudah, nanti kita ciptakan suasana sederhana hingga menjadikannya cerita.

Kamu bikin kopi saja, aku yang membuatkan api unggunnya..

 

Older Entries Newer Entries