Hai Bunga, kuceritakan padamu tentang seorang sahabat bernama Dedy Nurcahyono. Hmm, bukankah kau mengenalnya dengan baik? Ya benar, dia adalah Mas Dedi, anggota pencinta alam SWAPENKA sama seperti kau dan aku. Tapi aku yakin, ada beberapa hal yang kau masihlah tak mengerti, dan bagian itu yang ingin kututurkan padamu.

Aku mengenalnya pertama kali ketika aku dan Dedi sama sama mengikuti Pendidikan dan Latihan Dasar Pencinta Alam SWAPENKA. Suatu hari di bulan November yang basah, di awal milenium. Dedi masih semester satu, sedangkan aku kala itu sudah duduk di semester lima Fakultas Sastra. Namun begitu, aku tidak pernah merasa terlambat untuk memasuki dunia yang baru, apalagi kalau bukan dunia organisasi.

Sebagai peserta DIKLATSAR yang ke XIX, kami hanya bisa duduk terhuyung huyung di atas truk yang sedang meliuk menuju Bandealit, sebuah kawasan hutan yang masih masuk zona Taman Nasional Merubetiri. Peserta DIKLATSAR XIX SWAPENKA bukan hanya aku dan Dedi. Masih tersisa enam lagi lainnya. Anton, Puspito, Saroji, Endang, Tri, dan Krucil. Tiga nama yang kusebutkan terakhir adalah saudara seangkatan yang ada di garis kaum Hawa, aku begitu menaruh hormat pada mereka.

Lenggak lenggok kami di atas truk (yang aku sendiri lupa apa warna truk tersebut, karena foto foto DIKLATSAR angkatan XIX lenyap entah kemana. Kami seperti generasi yang hilang) usailah sudah. Semua bernapas lega, begitu juga Dedi. Tapi tidak dengan diri ini. Karena setidaknya aku mengerti apa dan bagaimana rangkaian acara pendidikan yang seperti ini. Ya, semisal sebuah rahasia, DIKLATSAR Pencinta Alam adalah rahasia yang bersifat umum. Hampir semua orang bisa menerkanya. Adalah aneh ketika melihat wajah wajah sumringah dari peserta DIKLAT, kawan kawanku sendiri (yang nantinya kata ‘kawan’ akan tergeser sedemikian rupa hingga menjelma menjadi sebuah kata baru, ‘saudara’). Lagi