Hampir semua orang yang ada di sekitarku menghujat sistem komando dan selalu mengagung agungkan sistem demokrasi. Mereka bilang, sistem komando hanya cocok berada di ruang monarki. Hmmm, padahal setahuku, monarki adalah sistem tersendiri. Harusnya mereka menyebut lingkup militer manakala harus memperbincangkan sistem komando.

Tadinya aku juga menjadi bagian dari mereka. Selalu mengedepankan musyawarah bersama dan tidak menghiraukan komando yang lebih bersifat memerintah – diperintah. Tapi segalanya menjadi berbeda ketika aku terjun di dunia pencinta alam.

Suatu hari di DIKLATSAR PA SWAPENKA

Aku pernah ada di situasi dimana namaku ditiadakan, berganti dengan angka angka. Saat itu identitasku adalah 08. Setiap kali ada yang meneriakkan 08, itu pertanda aku harus segera merapat. Kemudian (untuk waktu tujuh hari) aku akrab dengan kalimat ini.

“08 siap menerima instruksi selanjutnya dari instruktur”

Itu adalah hari hari yang berat, sedikit menyebalkan tapi sulit untuk kulupakan. Berat karena aku ada di tengah hutan jauh dari peradaban, tidak memiliki beberapa hak selain hak hak dasar (seperti hak untuk menghirup udara), dan memiliki kewajiban untuk bergelut dengan diri sendiri. Sedikit menyebalkan karena aku tidak sedang menghirup udara di tengah suasana demokrasi, tapi ada di dalam sistem komando.

Berat dan menyebalkan, tapi begitulah, aku sulit untuk melupakannya. Karena ketika aku menjadi seorang 08, aku ditempa sedemikian rupa, ditekan sampai ada di titik nol. Itu sungguh berat, sebelum aku tahu bahwa tujuan para instruktur adalah agar aku bisa mengenal diri saya sendiri. Ibaratnya sebuah bola, aku ditekan sedemikian rupa ke dalam air biar bisa mencuat ke udara lebih tinggi.

Saat masa DIKLATSAR Pencinta Alam telah usai, saat keadaan kembali seperti semula, saat itulah aku mengerti. Pencinta Alam tidak sekaku itu. Dia sama sekali tidak bisa disamakan dengan Angkatan Militer, meskipun beberapa budayanya adalah hasil adopsi dari Angkatan darat, seperti salam komando.

PA mengenal dengan baik apa itu musyawarah mufakat. Mereka hanya tidak senang pada segala macam intrik dan manipulasi. Itulah yang menyebabkan kawan kawan PA terlihat seperti menutup diri dari dunia politik.

Sebenarnya tidak begitu, di dunia PA juga mengenal advokasi lingkungan dan beberapa hal kecil lainnya. Mereka tidak suka politik tapi bukan berarti apolitik, begitu kata seorang kawan.

Adapun sistem komando, dibutuhkan manakala para pencinta alam sedang terjun di lapangan, baik dalam rangka penelitian, trans, hiking maupun SAR. Setidaknya, mereka akan menggunakan sistem leader dan sweaper. Leader bertugas sebagai lokomotif perjalanan, rombongan lain sebagai gerbongnya, dan sweaper sebagai penyapu. Itu sistem komando paling sederhana, dimana gerbong harus tunduk pada arah lokomotif.

Hmmm, kenapa tiba tiba aku menulis tentang ini? Entah, aku lupa bagaimana awalnya. dan sekarang aku bingung untuk melanjutkan tulisan ini. Baiklah, aku akhiri saja tulisan ini biar tidak semakin membingungkan.

Salam Lestari…!

Iklan