Lihat di sana, ada seorang nenek tua yang melewati kantin fakultas ekonomi UJ. Dia mengenakan baju korpri padahal bukan pegawai negeri. Bajunya lusuh, selusuh rambutnya yang menggimbal.

Hujan sedang deras derasnya kala sang nenek melintas. Dia seakan tak peduli. Ada lebih dari satu nyawa yang menunggu hasil nenek mengais ngais, berharap dia pulang membawa sebungkus apapun untuk menyambung hidup.

Kau tahu? Empatiku pada nenek itu serasa tak berguna karena aku hanya bisa berdoa.

Aku sedang menikmati secangkir kopi seharga 1500, sedang harap harap cemas menunggumu. Hati kecilku tak henti berdoa, semoga ayam goreng skripimu happy ending dan bisa ujian 13 Januari 2012.

Di luar sana ada orang orang yang menggigil oleh atapnya yang bocor, oleh hempasan angin yang masuk ke kolong jembatan, dan oleh perutnya yang hanya dikasih makan Al Fatihah.

Di belahan bumi yang lain, ada saudara saudara kita yang hari harinya tercekam oleh peluru. Mereka terjebak di antara ganasnya perang.

Ada yang lebih berkaca kaca, ada yang lebih berlinang..

Lihat sayang, di depan sekretariat pencinta alam SWAPENKA aku melihat daun mulai berguguran. Dia tertiup angin basah dan rindu aroma tanah (yang juga basah setelah tersiram butir butir air hujan). Tugas daun daun itu selesailah sudah. Kini mereka sedang menikmati tugas baru, berpelukan dengan bumi.

Sayang, ada banyak hal yang bisa diterjang dengan hati. Percayalah, setiap masalah pasti akan menemukan sebuah titik, dimana nantinya semua akan kembali baik baik saja.

Nikmati saja ayam goreng skripsimu. Aku di sini menunggu, bersama kopi yang tinggal satu centi, bau tanah basah, dan daun yang mengecup wajah dunia.

Nanti setelah semuanya selesai, aku akan mengajakmu kesana. Menikmati ayat ayat Tuhan dari ketinggian.

Catatan

Ayo Priiiit, hajar ayam goreng skripsimu.. Puncak Rengganis menunggu. Semangaaaat.. Jreeeeeng..

Iklan