Sayang, mengapa engkau mbrabak? Apakah engkau masih merisaukan perihal remove facebook? Haha, sudahlah.. Biarkan semua kembali berjalan alami. Ijinkan saja dia untuk menyumpah serapahiku. Aku baik baik saja kok, apalagi ada secangkir kopi buatanmu. Meskipun sudah dingin, tapi satu sruputannya bisa menggelorakan semangatku untuk terus menulis.

Percayalah, aku juga sama seperti kamu. Sama sama tidak tahu apa gerangan alasan dia meremove, memblokir sekaligus memutus jalinan silaturrahmi yang aku tawarkan. Kalau kau terus bertanya kepadaku, lantas aku harus bertanya kepada siapa? Dengar sayang, jangan terlalu dipikirkan..

Rasa benci adalah sebuah sifat yang sengaja dihadirkan Tuhan di dunia ini sebagai pelengkap kehidupan. Harusnya kau tahu, itu adalah fitrah. Jadi sayang, teruskan hidupmu manakala ada yang sedang membencimu, kau sudah berusaha menjalin komunikasi tapi tiada hasil. Percuma saja jika kau terus bertanya tanya sementara detik tetap menderap. Waktu terus berjalan dan usia kita semakin berkurang.

Apakah kau akan terus berkutat dengan rasa penasaranmu? Akan ada banyak hal yang terlewatkan. Bisa bisa kau malah lupa untuk berkarya. Lagipula, kenapa jadi kau yang kepikiran? Bukankah semua hal yang dia perbuat, itu ditujukan padaku?

Benci adalah sebuah kewajaran, seperti aku yang benci manakala menghadapi suasana malam yang dingin tanpa secangkir kopi. Syukurlah, Bapak mengingatkanku dengan caranya. Beliau bilang, kebencian berbanding lurus dengan kesombongan. Mereka yang membenci sesuatu adalah mereka yang sombong tapi tidak sadar kalau dia sedang sombong.

Tapi, apakah kopi bisa membuatku sombong? Oh.. andai kau tahu bagaimana tersiksanya mengecup malam tanpa kopi. Hmmm, ternyata masih ada sedikit kotoran yang tersisa di hatiku. Pantas saja ada yang membenci.

Ups, sepertinya aku salah mengartikan deh. Apa benar dia melakukan itu semua karena didasari oleh rasa benci? Jangan jangan dia hanya iseng. Jangan jangan.. ah tidak tidak, sepertinya aku diperangkap oleh kekotoran hatiku sendiri. Bagaimana bila ternyata aku yang membencinya tapi enggan untuk mengakui? Karena enggan itulah, tanpa tersadari, aku mengirim sinyal sinyal di otakku untuk selalu beranggapan bahwa dia membenciku. Andai saja itu benar, betapa sombongnya aku. Ya Allah, ampunilah hambaMu ini.

Kemudian aku berpikir dan terus berpikir. Sementara dirimu masih menerawang menatap langit langit kamar, entah apa yang kau pikirkan..

Dia teman yang baik, padamu dan terlebih kepadaku. Baik, baik sekali. Dia hanya kesulitan memilih kata kata manakala harus bercengkerama dari hati ke hati. Diksinya kasar, cenderung menyakiti. Mungkin itulah yang membuatnya tidak memilih cara berkomunikasi langsung. Atau, apakah dia benar benar menjaga agar tak lagi ada perkelahian fisik? Ah tidak, itu sudah sangat lama, dan sekarang dia semakin dewasa. Hmm, mungkin ini yang membuatnya memilih cara yang aneh. Menghindar. Dia hanya tidak ingin menyakitiku secara langsung dengan kata katanya.Padahal, andai saja di mau membuka ruang komunikasi, tentunya aku akan bertanya. Dimana letak kesalahanku dan bagaimana aku harus memperbaikinya?

Sangat menyakitkan memang, ditinggalkan seorang teman. Tapi mau bagaimana lagi? Seperti yang kubilang padamu, waktu terus berjalan. Kita harus segera mendongak, menatap ke depan dan kembali berdiri (karena aku menganggap kehilangan teman sama artinya dengan terjatuh dari ketinggian). Perih, sakit dan terasa ada yang nggandol. tapi begitulah, tugas kita di dunia ini belum berakhir.

Engkau jangan salah sangka ya sayang. Aku tidak sedang putus asa untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi. Apalagi putus asa untuk kembali menjalin tali silaturrahmi. Bukan begitu, sama sekali tidak. Aku sudah melakukan semua yang aku mampu. Tidak ada tanggapan. Mungkin dia butuh sedikit lebih lama lagi waktu untuk berpikir. Biar saja, biarkan semua berjalan apa adanya. Lirik lagu cinta bilang, biarkan waktu yang menjawabnya.

Jangan mbrabak lagi ya sayang.

 

Catatan

Catatane nyusul, hahaha..

Iklan