Sebentar lagi tahun baru. Hmm, kemana aku akan mengajakmu? Kita sama sama bukan pencinta keramaian. Pernah juga menyukai segala hal yang ramai. Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Satu satunya keramaian yang kita suka adalah bazaar buku. Ohya ding, masih ada lagi. Menemanimu menonton K2 reggae bernyanyi. Hehe, ternyata kita tidak benar benar tidak suka dengan keramaian. Tadi aku seperti sedang mencoba berbohong (hehe, semoga tidak).

Aku pernah bertanya padamu. Seumpama aku akan mengajakmu bertamasya di alam bebas lagi, kemana kau ingin kubawa? Dengan mata yang berbinar, kau bilang ingin diajak kesana, sebuah tempat yang indah di ketinggian sana. Lalu aku bertanya, kenapa? Kau bilang, karena tidak ingin diejek lagi oleh teman temanmu sesama pencinta alam, apalagi oleh adek adekmu. Satu lagi alasanmu, kau ingin berfoto ria di sebuah puncak. Itu karena kau terlalu sering menikmati foto foto Qiqie adekmu. Ah…

Hana.. Dengarkan ini, aku ingin bercerita padamu..

Dulu aku pernah berdua saja dengan seorang teman, menikmati suasana gunung Lemongan. Gunung yang tidak seberapa tinggi tapi memiliki jalur (menuju puncak) yang dahsyat. Sebelum mencapai puncak, saat masih di belokan setapak, kami kelaparan. Akhirnya diputuskanlah untuk berhenti. Kami mengeluarkan segala alat memasak beserta logistiknya. Dan begitulah, kami memasak dan akhirnya menikmati hasil masakan (yang serba celup itu). Setelahnya, kami tidak segera melanjutkan perjalanan tapi lebih memilih untuk bersantai santai dulu.

Sepi. Itu bukan musim pendakian. Kami hanya berteman kicau burung, suara angin yang menggesek dedaunan, dan hari yang cerah (aku tidak berbohong padamu, saat itu hari benar benar cerah). Suasana semakin sepi karena kami tidak saling bicara. Entah, mungkin rekanku juga sedang menikmati indahnya sepi. Indah sekali.

Kemudian kita melanjutkan perjalanan. Keringat dingin membasahi baju lapang dan membuat kami sedikit tidak nyaman. Syukurlah, angin sepoi menjadi penghibur yang pas.

Akhirnya sampai juga kaki kaki kecil kami mendarat di puncak gunung Lemongan (aku lebih senang menyebutnya gunung Lemongan daripada gunung Fuji). Kami saling bersalaman, berangkulan, dan menikmati sekitar. Cantik. Dingin. Beberapa meter di bawah kami ada awan, tapi tidak semenggumpal saat mengecup puncak Mahameru.

Sepi, begitulah seharusnya. Dan saat nanti kau benar benar mendaki, kau harus menyediakan hati untuk bersahabat dengan sepi.

Saat kedua kakimu berhasil mencapai ketinggian, tanpa ada yang menyuruh, kau akan sendirinya mengucapkan rasa syukur. Karena kau akan merasa kecil. Kecil sekali. Sampai sampai, saat kau turun nanti (dan sudah kembali di peradaban), kau tidak akan sampai hati membunuh seekor semut, karena kau pernah menjadi semut.

Saat kau berhasil mencapai puncak, jangan harap ada tepuk tangan. Sayang, itu tidak mungkin. Pencinta alam bukan artis, bukan pula pemain sepak bola. Kita tidak butuh tepuk tangan. Yang kita butuhkan hanyalah mengerti bagaimana caranya menikmati suasana sepi yang sesunyi itu.

Lagipula, tepuk tangan itu membuai. Aku juga pernah terbuai (maaf). Saat itu, tamasya band sedang dapat rejeki juara satu di A *il* Live Wanted. Tamasya sering tampil, dan tepuk tangan dimana mana. Hmmm, andai saja mereka tahu, aku tidak siap dengan itu. Ah sudahlah, aku tidak sedang ingin bercerita tentang musik.

Hana sayang.. Saat nanti kau benar benar ada di ketinggian..

Jangan lama lama di puncak. Saat hatimu telah selesai menggenggam keindahan hidup, segeralah turun. Karena jika kau berlama lama di atas sana, aku takut kau akan merajuk padaku untuk tinggal dan bertahan hidup di sana. Lekaslah turun, lekaslah kembali pada kenyataan hidup yang terus berputar. Lekaslah menyadari bahwa tujuan dari semua pendaki di dunia ini adalah sama. Sama sama ingin turun dan kembali pulang dengan selamat.

Suatu hari nanti (jika Tuhan mengijinkan) aku akan membawamu kesana. Saat kau benar benar telah menyediakan hati menghadapi sepi, dan saat kau telah bisa mengubur alasanmu yang pertama tadi.

Cerita yang lain

Acacicu masuk koran

Pada satu Desember yang lalu, aku menerima sms dari seorang kawan bernama Arman Dhani. Dia seorang wartawan yang juga blogger. Karya karyanya tersimpan manis di SINI.

Dhani sedang ingin mewawancaraiku. Aku tanyakan padanya, kenapa? Dia bilang, ini menyangkut keaktifanku di dunia tulis menulis. Lho kok bisa ya, pikirku. Padahal aku cuma menuliskan hal hal nyleneh dan serba sehari hari. Sangat personal sekali, tidak mungkinlah bila akan dimuat di koran. Lagipula, mana mungkin aku mau.

Baru saja aku hendak menghubungi si Dhani perihal kekhawatiran ini, eh dia sms duluan. Dhani bilang, ada lomba di blog dan dia butuh kerjasama. Oalah begitu toh. Akhirnya aku menyanggupi untuk diwawancarai, dengan syarat, harus ada kopinya.

Saat aku dan Dhani benar benar bertemu dan ngobrol (saat itu kau ada di dekatku), ternyata yang ditanyakan bukan hanya seputar dunia blog. Dia juga bertanya perihal kesukaanku menciptakan lagu, dan kecintaanku pada alam sekitar. Yang bikin aneh, ada sesi jeprat jepretnya, banyak lagi. Waaah, untuk ukuran kontes blog, sepertinya ini tidak wajar.

Benar juga. Setelah obrolan dirasa cukup, Dhani pamit undur diri. sebelum benar benar melangkahkan kaki, dia bilang, “Ohya masbro, ini juga akan saya terbitkan di koran, besok pagi”

Wew.. eng ing eng..

Pantesan tadi aku difoto dalam beberapa sesi, ternyata mau dimasukkan koran juga toh? Hmmm… Dhani memang cerdas πŸ™‚

Tepat seminggu sebelum Dhani, aku juga pernah masuk koran POSMO edisi 653. Ini menyangkut tulisanku di blog acacicu dotkom. Sayangnya, tanpa ijin dan beberapa kesalahan fatal lainnya. Aku menceritakannya di sini. Hebat, POSMO dan koran tempat Dhani bernaung, sama sama anak perusahaan JP Group.

Dhani teman yang baik, itu yang aku rasakan selama mengenalnya. POSMO juga koran yang ‘baik’ meskipun dalam tanda kutip.

Dan.. heiii..

Padahal bukan ini yang ingin aku ceritakan. Aku hanya ingin menuliskan sepenggal pertanyaan dari Dhani. Dia bertanya sesuatu dan aku menjawabnya begini.

“Pencinta Alam tidak harus naik gunung”

Sungguh, aku tidak hendak menyakiti perasaan kawan kawan yang hidupnya didedikasikan untuk memetik keindahan hidup di ketinggian. Bukan seperti itu. Dan kalaupun ada yang berpikiran seperti itu, dengan tulus aku minta maaf.

Begini. Yang pertama, manalah aku tahu (dengan pasti) bahwa itu juga akan diterbitkan di sebuah koran lokal. Dan berikutnya, aku ingin melihatmu tersenyum. Bagaimanapun aku ini suamimu. Adalah tugasku untuk melindungimu. Saat itu, aku sedang ingin melindungi perasaanmu dari sebuah tanya yang sederhana.

Percayalah Hana, aku akan mengantarkanmu ke sana, suatu hari nanti..

Catatan

Kepada Dhani, terima kasih telah memperkenalkan aku pada publik. Tapi ngomong ngomong, kamu beneran sedang ikut kontes blog kan? πŸ˜€

Kepada Hana. Saat ini aku hanya sedang ingin menulis sesuatu padamu. Maka jadilah tulisan yang panjang dan nggak jelas alurnya ini. Aku ingin engkau membacanya.

Iklan