Sudah mulai sepi, tak lagi seramai kemarin. Mungkin ini saat yang baik bagiku untuk menceritakan kisah Ibu, seperti yang kau tanyakan kemarin.

Hana..

Sebenarnya, Ibu terlahir sebagai anak kedua dari enam bersaudara. Meninggal satu saat masih kecil, jadi tinggal lima bersaudara. Itu yang sebenarnya.

Yang tidak sebenarnya, Ibu adalah anak angkat dari keluarga berada (yang masih kerabat dekat). Istilahnya, Ibu adalah anak pancingan, karena keluarga ini tadinya tidak memiliki keturunan.

Dan apakah pada akhirnya mereka dikaruniai keturunan? Iya benar, 9 titipan dari Allah. Bersama Ibu, seakan akan mereka sepuluh bersaudara. Apakah karena pancingan? Tentu saja kau dan aku akan menggeleng. Tapi ada jawaban yang lebih bijak, Wallahu A’lam.

Ada saat yang dramatis dimana Ibu akhirnya mengetahui kisah sebenarnya. Kapankah itu? Itu adalah saat dimana Bapak hendak menikah dengan Ibu. Saat Ibu masih bekerja sebagai karyawan di Universitas Negeri di kota kecil ini.

Begitulah Hana, kisah singkat tentang mendiang Ibuku yang juga Ibu mertuamu.

Saat kemarin kau dan aku menonton kisah seputar anak pancingan, saat itu pula aku merindukan Ibu. Dan tahukah kau Hana, salah satu pembicara di acaranya Om Andy F. Noya itu wajahnya sangat mirip dengan Ibu. Beliau adalah Ibu Ieda Poernomo Sigit Sidi, seorang psikolog.

Hana, maaf jika ini tidak terlalu panjang. Tiba tiba aku ingin menikmati secangkir kopi bersama senyum Ibu. Entahlah, mungkin gara gara banyak orang bicara tentang Ibu, aku jadi terpancing rindu.

Sedikit Tambahan

Ah, kenapa aku bisa lupa tentang hari lahir Almarhumah? Bukankah sekarang adalah bulan Desember?

Iklan