Perkenalkan, namaku Jon Bon Jovi (tentu saja bukan nama sebenarnya). Rakyat biasa yang tidak punya prestasi gemilang saat dulu melakoni peran sebagai siswa sekolah. Intinya, aku tidak dilahirkan sepandai Profesor (apa iya setiap profesor itu pandai?)

Demi mengejar ketertinggalan, aku mengakrabi buku. Satu buku tipis (yang hebat) yang harusnya selesai dibaca hanya dalam waktu kurang dari satu jam, aku selesaikan sepanjang hidup.

Itulah aku. Benar benar rakyat biasa. Manusia pada umumnya.

Suatu hari, saat mendapati diri terbangun dari tidur, tiba tiba cerita berbelok. Tiba tiba orang mengira aku pandai. Tiba tiba orang melabeli aku dengan ini itu.

Hai hai hai, aku yang belum bangun, apa kalian yang bermimpi?

Aku hanya sedang belajar menyelesaikan apa yang sudah kumulai. Itu wajar, bukan sesuatu yang bisa dihebat hebatkan.

Dan aku juga sedang berusaha membantah beberapa kalimat yang melegenda.

Yang jujur hancur

Sudahlah, terima saja tawaranku. Jangan lari dari kenyataan

Pada saatnya nanti, kau pasti akan seperti aku. Jangan bodoh. Inginkah kau melihat wajah istrimu pucat hanya karena menahan sesuatu?

Dewasalah kawan

Kita ini sedang hidup di Indonesia, bukan sedang hidup di negeri acacicu

Makan tuh cinta

Kemiskinan dekat sekali dengan kekufuran

Masih banyak lagi. Banyak sekali…

Iya semuanya benar. Mungkin saya iseng saja. Atau terlalu bodoh? Ah tidak, aku kan hanya tidak pandai, bukan terlalu bodoh. Terbukti, aku masih tersenyum saat melihat bla bla bla berlagak bikin iklan layanan masyarakat peduli lingkungan. Itu tandanya aku tidak bodoh. Tidak semudah itu membodohi aku. Atau, mungkin mudah. Tapi aku akan membuatnya menjadi tidak mudah.

Perihal jujur tidak jujur, bukan urusan kita untuk menilainya. Yang terlihat jujur di mata kita, boleh jadi itu hanyalah sandiwara belaka.

Perihal tawaran yang menggiurkan itu, ah sudahlah. Biarlah aku cukupkan pada kata terima kasih saja.

Perihal prediksimu tentang bagaimana aku nanti, entahlah. Aku tidak seberani kamu dalam berkesimpulan. Ingat ingatlah saja satu hal, bahwa aku tahu harus bagaimana.

Perihal dewasa? Haha.. Biarkan aku menjadi bocah. Sesekali dalam sehari aku menjadi dewasa, bagiku itu sudah cukup.

Perihal negeri? Acacicu bukan Indonesia, meskipun para penyelenggara negeri ini suka beracacicu.

Perihal cinta, aku pernah menemani orang orang yang lapar. Posisi sedang tidak ada logistik sama sekali. Yang ada hanya seonggok gitar yang senarnya putus satu. Lalu aku bernyanyi. Lalu semua kenyang. Hmmm, ternyata cinta bisa dimakan.

Perihal kemiskinan, itu bukan untuk dipilih. Tapi saat miskin memilihmu, jangan buru buru kufur. Santai saja, itu hanya sementara kok. Tak mungkin dia akan bertahan dua ratus tahun. Paling lama hanya 50 tahun.

Jangan salah kira ya. Bukannya aku mengajakmu melarat, tidak tidak. Kalaupun harus kaya, kayalah dengan cara yang indah. Dan jangan lupa, belilah taman nasional, satu saja. Atau kalau kau kaya tanggung, beli gumuk saja, hehe.

Tentang kalimat yang melegenda itu, akan aku selesaikan.

Waktu merubah banyak orang. Aku juga pastinya akan berubah. Setidaknya aku akan mengeriput, mati dan selesai.

Catatan

Di adopsi dari catatan karya sendiri di jejaring sosial. Tadinya berjudul, Melakoni Hidup Dengan Merayap Seperti Akar..

Iklan