Di sini hujan. Ayam ayam kita bahkan belum sempat aku kandangkan sa’at hujan turun. Tiba tiba saja datangnya, setiba tiba rasa rinduku padamu sa’at ini. Tadinya aku mengira ayam ayam kita akan naluriah mencari tempat untuk berteduh. Ternyata tidak juga. Sa’at kuintip sekilas, mereka sedang memeluk butir butir air dari langit. Ya, mereka sedang berbasah ria bersama sama, seperti hendak mendinginkan gelora rindu kepada sang alam.

Hari ini aku belajar sesuatu dari ayam ayam kita…

Bahwa dalam hidup ini hanya ada dua pilihan. Sa’at hujan menyapa kehidupanmu, pilihanmu hanyalah segera mencari tempat berteduh yang nyaman, atau menghadapinya. Dan aku ingin berhujan hujanan saja, berdua dengan dirimu. Setelahnya, barulah kita kembali ke pelukan rumah kecil tempat kau dan aku menghangatkan diri. Percayalah, kita memang harus basah bersama butir butir air hujan, biar kita lebih mengerti betapa nikmatnya arti sebuah kehangatan.

Perempuanku..

Lupa kukabarkan padamu tentang kondisi si Bos, ayam pejantan milik kita. Paruhnya luka, entah karena apa dia terluka. Belum lagi di salah satu pahanya (aku lupa, apakah itu paha bagian kiri ataukah kanan). Sungguh miris aku memandang keadaannya.

Tapi.. Kau mungkin tak akan percaya bila aku katakan yang sebenarnya. Si Bos tetap berkokok, si Bos tetap menunaikan tugas menjaga betinanya. Dan satu lagi, si Bos tetap berdzikir dengan caranya sendiri..

Aneh, sulit dipercaya, tapi inilah diriku hari ini. Aku sedang berguru pada profesor berspesies ayam. Seakan akan si Bos bergumam kepadaku, “Namanya juga pria, wajar bila ada bekas luka..”

Ah..

jangan kau kira aku sedang ingin menjelma menjadi sebangsa dengan si Bos. Ayolah sayang, aku tidak sebodoh itu.. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa ada sa’at sa’at dimana seorang lelaki terluka. Dan di jaman yang segemerlap ini, biasanya luka datang dari sisi ekonomi yang menikam.

Di sa’at yang seperti itulah, dimana segala resah terkumpul menjadi seikat luka, percayalah… Aku akan selalu melindungimu. Berbuat apapun untuk bisa membuatmu kembali tersenyum. Menerjang apapun yang harus aku terjang, apapun yang terjadi.

Sayang percayalah, aku manusia seutuhnya. Dan aku tidak ingin si Bos selangkah lebih jantan dari diriku. Karena jika itu terjadi, apa kata nagabonar? Ah, harusnya bukan nagabonar, tapi ayambonar (aku sedang ingin menutup tulisan ini dengan sedikit lelucon, tapi aku tahu kau tidak sedang ingin tersenyum).

Hujan sudah mulai mereda. Sekarang aku tidak sedang ada di kandang. Tapi sepertinya aku bisa membayangkan apa yang sedang ayam ayam itu lakukan. Ya benar, mereka sedang mengibas ibaskan bulu bulu basahnya, berharap bisa menggelindingkan butir butir air hujan yang menunggangi tubuh mereka.

Perempuan kecilku..

Sebentar lagi giliran kita yang akan berbasah ria dengan butir butir air kehidupan.Kedepan, hanya dalam hitungan hari, kau dan aku akan menikah. Akan menyulap diriku dan dirimu menjadi diri kita.

Aku rasa aku telah menyiapkan segalanya. Ternyata tidak juga. Ternyata benar yang kudengar (dari suara suara yang senang berceloteh itu). Bahwa sesederhana apapun prosesi pernikahan, kita tetap membutuhkan uang. Kali ini aku mengamini Robert Kiyosaki. Meskipun sebenarnyalah aku tidak benar benar sepemahaman dengan pencetus gerakan kecerdasan finansial itu.

Bagiku uang bukanlah harta. Dia hanyalah sebentuk alat tukar yang disepakati bersama. Harta adalah dirimu. Harta adalah saudara saudara kita di dunia nyata maupun maya. Dan mereka tidak bisa ditukar dengan setumpuk uang.

Perempuan yang matanya berbinar binar..

Tapi tetap saja, seruncing apapun kutajamkan kata kata ini, tetap saja hasilnya akan sama. Kita sedang butuh alat tukar itu. Tidak bisa kita hanya memejamkan mata dan menutup telinga. Bagaimanapun, kita harus mempunyainya. jangan panik, semua akan baik baik saja. Kita hanya butuh berusaha, memohon dan berserah diri. Tuhan ada dimana mana, dan terkadang rizki Nya datang dari tempat yang bahkan tidak kita bayangkan sebelumnya.

Perempuanku..

Aku hanya berharap engkau masih memiliki harapan yang sama denganku. Kita akan hidup di atas sebuah lahan yang halamannya akan kita tanami dengan segala tumbuhan yang kita butuhkan. Akan kubuat sebuah kolam ikan di salah satu sudutnya. Sementara di sudut yang lain, kita biarkan ayam ayam kita bergerak bebas berburu serangga. Ya, biarkan saja mereka bergerak dan berkembang biak. Bagaimanapun, mereka adalah guru di kehidupan kita.

Aku hanya butuh menggaris bawahi. jika sewaktu waktu kau butuh alat tukar, jualah telurnya (sebelum telur itu menetas dan kita memberinya nama). Atau bila kita sedang kedatangan tamu dan kau ingin menyuguhkan sop ayam, sembelihlah yang tersehat dari mereka dengan pisau yang sangat tajam. Seperti yang pernah dicontohkan oleh Ibrahim. Memang terdengar sadis, meskipun sebenarnyalah tidak begitu. Bukankah pernah kukatakan padamu, bila di dunia ini sudah tidak ada lagi predator, tak lama lagi dunia akan berakhir.

Kau mengerti betul tentang ini. Hewan ternak tak memiliki predator penyeimbang siklus hidupnya. Itulah kenapa Tuhan memberi kita sebuah hari yang bernama Idul Adha. Nah, asal kau mengerti ini, kau pastinya tersenyum. Ternyata tidak ada masalah dengan sop ayam (dalam hati aku berdo’a, jika sa’atnya tiba membuat sop ayam, semoga bukan aku yang kau mintai tolong untuk prosesi penyembelihannya).

Pada perempuan yang rambutnya tergerai…

Aku mau ‘mlungker’ dulu ya sayang. Mau rebahan sambil menghafalkan do’a Qobiltu (untuk aku ucapkan pada 15 November nanti). Aku juga masih harus menyelami lirik lagu yang hendak kupersembahkan sebagai mas kawin pernikahan kita…

Do’akan semoga aku bisa. Dan akan kudo’akan semoga kau baik baik saja dalam masa pingitan yang membuahkan rindu ini.

Salam…

Catatan :

Terima kasih Mbak Melly Mergeraye, atas kado Puisi indahnya…

Iklan