Aku tahu, setiap kali kau merasa resah, kau selalu menghanyutkan diri pada lagu lagu Bang Iwan. Ya, aku tahu betul itu. Dan engkau menemukan kedamaian di lagu lagu tersebut. Lagu yang paling kau senangi, Damai Kami Sepanjang hari, aku juga menyukainya. Bedanya aku denganmu, hampir semua lagu lagu Bang Iwan engkau hafal. Aku tidak seperti itu. Hanya beberapa saja yang aku hafal.

Tentu saja engkau maklum dengan keterbatasanku ini. Aku juga suka dengan Bang Iwan, sangat menaruh hormat. Siapa yang tidak menyukai orang yang berkarya dengan jujur? Hanya saja aku memang tak sehebat dirimu dalam berapresiasi.

Beberapa menit yang lalu aku menulis sesuatu di dinding jejaring sosial Bang Iwan. Kukatakan bahwa aku ingin sekali membuat sebuah surat untuknya. Kau tahu, jariku bergetar saat menuliskannya. Hatiku tidak jauh berbeda. Butuh mental berlipat untuk menuliskan beberapa kata di sana. Apalagi anggota group jejaring sosialnya berjumlah hampir dua juta orang. Tapi aku melakukannya. Dan itu semua bukan untuk diriku sendiri.

Dua puluh satu hari lagi kita mengikat janji, dan engkau ingin aku menulis surat untuk Bang Iwan.

Benar benar keinginan yang mudah dinalar, tapi alangkah sulitnya untuk segera memulai menuliskan sebuah surat yang engkau ingin aku menuliskannya itu.

Dulu engkau pernah meminta padaku sesuatu yang sama sulitnya dengan ini. Saat itu engkau ingin agar aku mengajakmu terbang. Meloncat dari bintang yang satu ke bintang yang lain. Ini bukan berandai andai, tapi benar adanya. Kau benar benar ingin terbang, seperti terbangnya seekor burung. Kau benar benar ingin kita meloncat di bintang, seperti saat kita meloncat dari satu batu sungai ke batu sungai yang lain. Itu benar benar tidak masuk akal. Tapi beginilah aku. Selalu ingin memenuhi apapun yang engkau inginkan. Syukurlah tak lama setelahnya aku menemukan jalan keluar. Aku mengajakmu memejamkan mata. Kemudian, kita berimajinasi. Kemudian terbanglah kita. Meloncat dari satu bintang ke bintang yang lain.

Aku mencoba menghibur diri. Mencoba mengajak hati nurani untuk berbincang bincang. Mensugesti diri dan terus menerus menegaskan bahwa ini mudah. Bahwa menulis surat kepada Bang Iwan bukanlah sebuah mimpi. Bahwa ini hanyalah anak tangga yang harus aku lewati untuk menuju pintu gerbang rumah tangga yang kita idam idamkan. Tapi apakah benar demikian?

Aku akan melakukannya. Ya benar, aku akan memberanikan diri untuk melakukannya. Yang aku butuhkan hanyalah melewati huruf pertama. Sayangnya, huruf pertama itu tidak aku mulai sekarang. Aku masih butuh udara segar. Butuh beberapa cangkir kopi lagi.

Bunga..

Semoga engkau percaya bahwa aku benar benar akan melakukannya..

 

Iklan