Harusnya ini adalah hari yang indah buat kita.

Hari dimana kita pernah melewatkannya dengan bersepeda kayuh rame rame sambil menebar sticker yang bertuliskan pesan lingkungan. Hari dimana kita pernah tertawa riang manakala rantai sepeda yang kau kayuh lepas dari geriginya.

Saat itu, akan lebih indah bila kau merengek. Dengan begitu, aku jadi punya kesempatan menunjukkan naluri melindungi. Tapi ah, kau malah lebig sreg tertawa.

Hari ini tiga tahun yang lalu..

Kita pernah membelah jalan beraspal di atas sepeda BMX kuning. Sementara aku mengayuh, engkau tak henti mengeluh lantaran ngilu duduk di pipa sepeda. Ah, alangkah indahnya caramu meracau.

Tentunya kau juga masih ingat tatkala kita berpapasan dengan mahasiswa yang sedang turun ke jalan di 22 April tiga tahun yang lalu. Mereka terlihat gagah dengan bendera yang ada tulisan politik politiknya. Inilah pemuda harapan bangsa yang di elu elukan rakyat, batinku.

Tapi apa yang kau lakukan? Kau malah terbahak melihat tingkah mereka. Entahlah, aku tak tak tahu apa yang kau tertawakan. Hmmm.. harusnya dulu aku tanyakan saja padamu.

Harusnya sekarang adalah hari yang indah buat kita. Hari dimana kita punya penggalan penggalan kisah yang mungkin bagimu tak begitu menarik. Tapi entahlah, bagiku.. segalanya terasa begitu menyejukkan saat bersamamu.

Seperti yang seringkali menderaku. Ini tentang suara yang tak merdu. Semua orang tahu bila kau tak pandai bernyanyi. Tapi justru itulah letak kehebatanmu. Tidak semua musisi (sehandal apapun) bisa mengiringimu bernyanyi. Tapi aku suka. Aku rindu suara cempreng milikmu.

Bukan hanya suaramu yang aku rindukan. Bahkan aneka macam kelemotanmu pun aku merindukannya. Maaf, jangan marah ya (hehe). Tapi bukankah itu benar? Bukankah engkau sendiri yang bilang tentang ketidak mengertianmu akan ini itu dan sebagainya? Beruntung kau jago meracik secangkir kopi. Kalau tidak? Alangkah lengkapnya kelemotanmu, hehe..

Tapi santai saja, tidak usah terlalu dipikirkan. Tuhan akan memberimu pasangan yang kurang lebih setara dengan bobotmu, haha.

Bunga, baru beberapa waktu yang lalu engkau berpamitan. Tidak kemana mana, hanya ke Taman Nasional Merubetiri saja. Ingin melihat matahari terbit dan ingin mendengar nyanyian dedaunan, begitu katamu. Itulah kenapa aku merindukan kelemotanmu.

(Harusnya ini adalah hari yang indah buat kita..)

Iklan