Gerimis masih saja turun saat aku menuliskan ini.

Hmm, tak ada bau tanah karena ini bukan gerimis yang pertama. Tapi desir ini selalu ada, meskipun rindu yang menggelayut di hati bukan rindu yang pertama dan satu satunya.

Ya sangat benar, ini bukan rindu yang pertama, meskipun rindu ini punya rasa yang sama. Seperti rintik gerimis yang tak akan pernah sama jumlah butirnya. Namun, dia selalu memberi rindu pada tanah tanah yang membasah, pada daun daun yang berdansa dan pada hati yang kekeringan.

Bunga, saat sendiri menyelimuti hati ini, aku merindukanmu. Saat ada di tepian sungai bedadung yang dulu pernah indah, aku merindukanmu. Saat merdeka bernyanyi di dalam kamar mandi, aku merindukanmu. saat kunikmati bintang di atas genting yang beberapa sudah berlumut, aku merindukanmu.

Kau tak akan pernah tahu itu karena aku tak akan pernah memberitahumu.

Kenapa? Bukankah kau berhak tahu?

Benar. Bisa saja kutuliskan rasa itu di tembok tembok tak bertuan. Atau di spanduk kain memanjang yang kupasang di ekor helikopter. Atau di gerbong kereta barang. Atau ku tatto saja ditubuhku. Atau mengikuti perkembangan jaman dengan menuliskannya di dinding jejaring sosial. Tapi ah, aku takut rasanya tak sama lagi. Menguap tak berarti karena terlalu sering dihambur hamburkan.

Rindu adalah sebuah rasa yang sebegitunya. Rindu layak dinikmati, bahkan meskipun rasa yang satu ini tak pernah meminta untuk dinikmati. Hmm, tapi kadang dia suka memaksa. Datangnya tiba tiba, dan pergi dalam waktu yang sangat lama. Tentu saja untuk kembali lagi.

Rasa yang satu ini amatlah mahal, tapi rindu tak pernah bisa dibeli. Tidak bisa kita menyamakannya dengan strowberry. Atau magnum atau coklat termahal di dunia. Atau dopamim apapun, meskipun itu kopi luak.

Maaf Bunga, sedikit ralat untuk kopi, dia adalah sahabat saat kita dirundung rindu. Seperti saat aku tuliskan rangkaian kata yang entah bermakna apa tidak ini.

Bunga, ada rindu yang jatuh bersama rintik rintik hujan. Ada rindu yang mengalir di ruang tak hampa anatomi tubuh ini, menderas bersama cairan kopi hitam yang kupesan di warung depan. Kopi yang tak sama dengan buatan tanganmu, tapi cukuplah menemaniku saat kau tak di sini.

Ah, sudahlah. Aku akhiri saja tulisan tentang rasa rindu ini. Aku takut ini terlalu panjang dan membuatmu lelah.

Bunga, cepatlah kembali. Aku rindu kopi buatanmu..

Iklan