Hai Bunga..

Aku menuliskan ini di sebuah sore yang cantik di 21 Februari 2011. Dan engkau masihlah tertidur lelap.

Apa yang engkau impikan? Tidakkah kau bermimpi akan sebuah rumah kecil sederhana di sudut desa yang sedikit demi sedikit tergerus arus jaman? Seumpama itu yang kau impikan, berarti kita memiliki mimpi yang sama.

Bunga..

Sampai detik ini aku masih memelihara sebuah harapan kecil. Tentang rumah yang temboknya tidak berlepok, yang lantainya hanya kerikil kerikil kecil, dan yang pekarangannya luas. Di halaman itulah akan kuhabiskan sisa hidupku untuk berkebun, memelihara ikan di kolam, memberi makan ayam, bebek dan mungkin juga merpati.

Hmmm.. entahlah aku tidak tahu apa kau bisa menerima kehadiran merpati atau tidak.

Kita tidak usah lagi memikirkan akan diskon di sebuah mall yang mentereng. Cukuplah tersedia beras di sudut dapur rumah kita, itu sudah sangat indah.

Bila urusan perut bisa kita selesaikan dengan beras dan lauk pauk yang tersedia di halaman rumah, tak ada alasan lagi untuk tidak berkarya. Kita bisa menjadi ‘pengumpul’ yang baik. Karena menjadi pengumpul yang baik itu adalah sebuah keharusan, biar kita bisa naik satu tingkat, menjadi ‘penebar’ yang baik pula.

Bila urusan perut telah tuntas, alangkah senangnya kita manakala ada tamu yang berkunjung. Sediakanlah senyum yang jujur. Karena kita bukan politikus tikus, maka kita harus jujur.

Ohya, jujur itu gratis, jangan pelit untuk menebarkannya.

Berilah tamu kita camilan ala kadarnya. Separah parahnya, berilah mereka air putih. Karena air putih itulah yang nanti akan menyambut kita di dimensi selanjutnya.

Bunga sayang..

Itu saja cerita hari ini. Doaku tetap sama, semoga kita memiliki mimpi yang setidaknya nggak jauh berbeda.

Salam rindu dari hati yang tar centaran..

Iklan